Bus Wisata Tolak Sistem One Gate Yogyakarta: Kami Jadi Kambing Hitam Covid-19

Pengusaha bus pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta menolak rencana penerapan one gate system atau sistem satu pintu bagi wisatawan. Sistem one gate ini bakal diterapkan saat pemerintah pusat melonggarkan aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM dan mengizinkan destinasi wisata kembali buka.

Dalam sistem one gate, seluruh wisatawan yang naik bus pariwisata akan menjalani pemeriksaan dulu di Terminal Giwangan, Yogyakarta. Di sini, mereka harus menunjukkan sertifikat vaksinasi dan tes Covid-19 dengan hasil negatif. Jika tidak dapat menunjukkan dua dokumen itu, maka wisatawan tersebut tak boleh masuk ke Yogyakarta.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Organisasi Angkutan Darat atau Organda DI Yogyakarta, Hantoro mengatakan konsep one gate system itu pilih kasih. “Kebijakan one gate system yang hanya berlaku untuk bus owisata ini mengancam eksistensi kami. Ini membuat masyarakat ragu berlibur dengan naik bus,” kata Hantoro di sela rapat koordinasi bersama Satgas Covid-19 dan pemerintah Kota Yogyakarta, Rabu 18 Agustus 2021. “Skema ini seperti menjadikan bus wiata sebagai kambing hitam penularan Covid-19.”

Hantoro menjelaskan, sejak Maret 2021, banyak bus wisata yang tak beroperasi. Namun faktanya, penularan Covid-19 di Yogyakarta tetap tinggi. “Berarti penularan tinggi itu bukan karena bus wisata beroperasi. Seharusnya pemerintah mengevaluasi dari mana sumber penularan itu,” kata Hantoro.

Selain pilih kasih, rencana one gate system, Hantoro melanjutkan, juga mengakibatkan wisatawan enggan naik bus wisata untuk berlibur ke Yogyakarta karena bakal membuang waktu. Wisatawan harus transit di Terminal Giwangan dan menunggu seluruh penumpang selesai diperiksa, baru bisa meneruskan perjalanan ke destinasi wisata yang dituju.

Satu bus wisata misalkan mengangkut 60 penumpang. Hantoro membayangkan, butuh minimal satu jam untuk mengecek dokumen vaksinasi dan hasil tes Covid-19 seluruh penumpang. Itu untuk satu bus saja. Bagaimana jika terdapat puluhan bus dan ratusan penumpang yang mengantre di Terminal Giwangan. “Bisa-bisa wisatawan selesai dari Terminal Giwangan sudah maghrib,” kata dia.

Organda DI Yogyakarta sejatinya mendukung kebijakan pemeriksaan ini untuk memastikan wisatawan yang masuk Kota Yogyakarta benar-benar bersih dari Covid-19. Hanya saja, tidak efektif jika ketentuan itu hanya untuk penumpang bus wisata. Terlebih pengusaha bus wisata, menurut Hantoro, sudah berbenah dan mendukung upaya penekanan kasus Covid-19. Contoh, memudahkan pelacakan dengan cara mengatur dan memeriksa data calon penumpang sejak dari biro perjalanan.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan skema one gate system ini muncul dalam evaluasi sebelum PPKM. Menurut dia, sebagian besar wisatawan yang kedapatan tidak mentaati peraturan perjalanan luar daerah adalah penumpang bus wisata. “Sekitar 60 persen wisatawan bus wisata yang parkir di Abu Bakar Ali Malioboro mengabaikan protokol kesehatan, memang tidak semua,” kata Heroe.

Adapun wisatawan yang naik kendaraan pribadi, menurut Heroe, sebesar 80 persen sudah mematuhi syarat protokol kesehatan. Yang menggunakan kendaraan pribadi juga terkena tes acak di Malioboro dan destinasi wisata.

Kebijakan one gate system berlaku bagi penumpang bus wisata yang masuk ke Kota Yogyakarta. Adapun wisatawan yang naik kendaraan pribadi, tetap diperiksa melalui pengecekan acak, pemeriksaan dokumen vaksinasi dan hasil tes Covid-19 oleh petugas hotel tempat wisatawan itu menginap, dan titik parkir di setiap destinasi wisata yang dituju.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.